Ramai yang diramaikan

​Makassar

27 Maret 2017

Kelam perjalanan adalah ramainya kehidupan yang merupakan panggung sandiwara (Bumi) sedari dulu ditata dengan watak serta takdir pada aktor (Manusia) peran utama sebagai proses mengenal untuk mengagungkan diri semata jua. Interpretasi diri adalah sadar akan diri lain pada kehidupan nyata yang tidak nampak pada biasanya nampak dengan bantuan ritual yang dikenal namun tidak pada esensinya.

Tentang rekontruksi dangkal pada pola pikir adalah alur restorasi dari pakar pemikir terdahulu untuk menarik kembali kepada zaman dimana masih Ummi, meski tidak mencapai kemaksimalan harapan pada pencapaian.

Melalui akal, manipulasi fakta bisa menjadi rutinitas untuk mengasah ketidaktahuan menjadi pengetahuan baru yang melahirkan realitas sehingga dogmatisme baru tercipta melalui karya ilmiah pun diragukan untuk dipilah dan di telaah sedetail mungkin sampai menuju pada pokok dari kausalitas akan proses kejadian.

Manusia terlahir dengan IQ pracerna dibawah 5% saat remaja yang di upgrade pada dewasa menjadi 10% hingga sampai pada tahapan pengenalan yang meyakini hukum metafisika sebenar benarnya adalah benar adanya hingga pada pleton terkecil dari unsur kimia pun dapat dikembangkan sampai pada atom sebagaimana. Namun kini banyak pribumi maupun eksternal pra pribumi lebih memilih untuk memilah sesuai pada kemampuan atau basic yang dicapainya berdasarkan pengetahuan pembelajaran.

Banyak pengetahuan dari sejatinya ilmu telah dilalui pakar pemikir penggila pengetahuan yang imajinatif dan sering kita jumpai dengan berbagai karakter yang  yang merahasiakan makna dari pola pikirnya pada sebuah tulisan dan nantinya dikembangkan oleh regenarasi pra intelektual. Maka titik pencapaian dari hasil telaah para ahli adalah isyarat untuk dikembangkannya apa yang belum terselesaikan pada penelitian sebelumnya.

Maka kita ramai dengan sains modern yang esensinya adalah sains lama dengan kembang sastra baru.
Juga pula ramai pada kehidupan kerena kita ganda diatas pijakan kaki antara siang dan malam, namun tidak kita sadari sedari dulu.
Muhammad Khafidz Tarwan

KITA TIDAK BERBEDA

Makassar, 29 Maret 2017

Pada saya

Tutur bahasa sayang untuk Aku yang memberikan kasih di sela kepeduliannya saya pada diri dunia lain

Hidup yang diliputi kesibukan diri untuk melayani hari, ada yang menghantarkan pribadi menuju titik pencapaian. Memerdekakan diri menuju gerbang kesugguhan agama yang dahulunya kafir pada tuntutan dan budaya kerena hilang bersama kembangnya dunia. Ada pula yang kian lama kian dijauhi oleh keberadaan yang masih merambat perlahan kepada peka yang berkurang. Ada juga yang kian berharap hingga diberikannya harapan untuk mengenal kehidupan baru malah bertukar arah berjalan disela kiri kehidupan.

Namun ada yang bahagia bersama dunia karena akhirat yang terjamin oleh ibadah yang sebetulnya ibadah.

Statement serta banyaknya reverensi yang diperoleh merupakan reka ulangnya kejadian yang mampu dimaknai para ahli – ahli pemikir dalam meramalkan sikap serta kembang perilaku manusia hanyalah pada sebuah lingkaran yang tidak keluar dari rutinitas hasil sensus yang banyak dicetuskan pada akhir dari penelitian tersebut. Seperti halnya kejadian awal mula manusia pertama mengenal cinta serta memperkenalkan jati diri yang nampak pun telah ada, namun luput dari keingintahuan.

Kontemporer

Kini kita dikenal dengan modernitas pola pikir yang mengembangkan pola pikir terdahulu. Namun, sayangnya pengembangan pola pikir tidaklah logis bila dikatakan sebagai sebuah pengembngan. Akan tetapi mengenalkan pola pikir untuk di telaah. Pemilahan yang dimaksud sebenarnya pun telah dijelaskan dengan bahasa rahasia yang mana sangkut paut antara bahasa dan rahasia pun terdapat dalam penjelasan pada keseharian seorang manusia tersebut.

Kesalahan

Banyak kebanggaan dalam mengungkapkan reverensi, terlebih lagi tentang telaah tokoh pada proses mencerna rutinitas. Namun banyak juga tokoh yang tidak sampai pada tujuan sebenarnya diakhir proses tersebut. Bukan malah menembangkan tapi membanggakan.

Kalimat dari awal Abjad pun tetap sama hingga akhir Abjad, juga Makharijulul Huruf pun tidak beda, hanya dengung serta lafadz yang menjadi pembeda saat berucap.

Maka kita adalah ilmu yang melahirkan kembali pengetahuan lama demi menuju pada sesuatu yang baru
Muhammad Khafidz Tarwan